Sandeq Sabang Subik dan Aina Harumkan Nama Indonesia

      DUA perahu sandeg berwarna putih membelah lautan. Layar Sabang Subik dan Aina mengembang membawa delapan anggota Korps Pecinta Alam (Korpala) Universitas Hasanuddin (Unhas) mengarungi bahari bersama mimpi besarnya untuk sebuah pembuktian “Bangsa Pelaut.”
     Ekspedisi Pelayaran Akademis I pada tahun 1996 telah membuat kebanggaan dengan cita rasa berbeda. Anak muda yang hidup di jaman moderen berlayar dengan perahu sandeq menelusuri jejak pengembaraan suku Bugis-Makassar hingga ke negeri jiran, Malaysia dan Brunei Darussalam. Tak hanya menjadi kebanggaan Unhas, Makassar, Sulsel, dan Sulawesi, tapi ekspedisi ini sudah menjadi kebanggaan Indonesia. Mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.
     Tim itu terdiri dari Muhammad Taufik, Harahap Mansur, Apriano Muhammad, Erniati, Nuning Setiawati, Andi Indra Wahyudi, Sarhan, dan Reo Andi Taufan. “Ada satu penduduk asli Mandar yang ikut dalam tim, namanya Arifuddin.” Berlayar dengan perahu sandeq menantang gelombang mungkin oleh orang awam dianggap sebagai pekerjaan yang tidak masuk akal. Namun, menurut Indra, hal itu sangat mungkin untuk dilakukan.
     “Itu sangat logis. Perahu khas Mandar ini sudah biasa dipakai berlayar dari Sulawesi ke Kalimantan, sudah sering dipakai menyeberangi lautan lepas. Jadi saya pikir kala itu masuk akal memang,” kata anggota Korpala Unhas ini.  Persiapan atlet sekitar satu tahun sebelum berangkat sekitar bulan Agustus 2006 memulai pelayaran.
     Beberapa simulasi pelayaran, pelatihan di Pulau Barombong selama dua minggu, Operasi pelayaran Bahari Tradisional, dan berbagai persiapan fisik lainnya. Persiapan sekitar satu tahun baru kemudian tim dianggap siap berangkat.
     “Ini memang program dari pengurus Korpala. Ahir tahun 1995 perizinan sudah selesai,” kata Indra. Diceritakan Indra, pemberian nama perahu sandeqnya Sabang Subik karena perahu itu dibuat di kampung bernama Sabang Subik di daerah Pambusuang, Polewali Mandar, Sulawesi Barat (Sulbar).
     “Kalau Aina itu akronim dari Anak Indonesia,” kata Indra. Tentunya nama perahu itu juga sebagai semangat anggota Korpala yang go internasional. Beberapa pengalaman selama di laut diceritakan Indra, termasuk saat mereka diperiksa oleh police marine (polisi laut Diraja Malaysia) saat akan masuk wilayah negeri itu.
     Apa pengalaman paling menarik? Menurut Indra adalah saat mereka bertemu dengan orang-orang Bugis-Makassar di perantauan. Mereka sangat antusias menyambut rombongan kecil itu.  “Mereka rebutan memanggil kita. Seperti di Sandakan, mereka terlihat berat saat akan kembali melepas kami berangkat berlayar melanjutkan perjalanan,” tutur Indra.
     Dari total perjalanan sekitar enam bulan, tiba kembali di Makassar pada bulan Februari 1997, sekitar tiga bulan mereka di laut dan selebihnya di darat.  Tidak hanya pelayaran dan penelusuran yang mereka lakukan, di dua negera yang mereka singgahi, Malaysia dan Brunai Darussalam, mereka menggelar seminar dan dialog tentang kebaharian.
     Di Malaysia, mereka diterima oleh mahasiswa Yayasan Sabah dan di Brunai oleh mahasiswa Universitas Brunai Darussalam. “Waktu masih di luar negeri, kita sudah membawa atas nama Indonesia,” kata Indra.
Pengalaman menengangkan dialami satu perahu sandeg milik mereka saat dalam pelayaran pulang ke Makassar. Dalam perjalanan pulang dari Malaysia, Sabang Subik kondisinya sudah rusak dan terpaksa hanya sampai di Pontianak, Kalimantan Barat. Indra, Taufik, dan Erniati selanjutnya menjadi tim darat.  Perahu Aina yang diawaki Reo, Harahap, Apriano, Sarhan, dan Nuning melanjutkan perjalanan ke Jakarta yang selanjutnya menuju Makassar. Dalam pelayaran Jakarta-Makassar perahu mereka mengalami masalah dan akhirnya tenggelam.
     “Sekitar tiga hari terapung di laut dengan berpegangan pada perahu, baru kemudian ditemukan kapal tunker yang melintas. Mereka dibawa ke Lampung karena jalur tunker itu ke sana setelah itu mereka kembali ke Makassar,” kisah Indra.  Menurut Ostaf Al Mustafa, salah seorang anggota Korpala, terlaksananya kegiatan itu tidak terlepas dari peran Reo yang kala itu sebagai ketua ekspedisi. Selain itu juga dibarengi dengan kemampuan jaringan dan kebersamaan anggota.
     Bagaimana dengan EPA II yang rencananya akan menempuh jalur berbeda yang mungkin akan lebih menantang, yakni Darwin, Australia? Menurut Indra, sangat masuk akal untuk dilakukan pelayaran dengan perahu sandeq.  Hanya saja, kata Indra, harus dibarengi dengan persiapan fisik, mental, dan kemampuan pelayaran. Menurutnya, kesiapan mental sangat dibutuhkan untuk mengadapi rasa jenuh dalam perjalanan yang memakan waktu lama.
     “Pengetahuan pelayaran harus bagus. Kalau dulu ada teknik dasar pelayaran, tapi sekarang kan kita terbantu dengan kecanggihan teknologi. Sudah ada GPS (global positioning system) sehingga navigasi lebih mudah,” kata Indra.
     Hal senada juga dilontarkan Saiful Rauf, yang tercatat sebagai anggota divisi bahari. Menurut dia, persiapan harus benar-benar matang, tidak hanya dari atlet, tapi juga dari kesiapan administrasi perjalanan.
Menurut dia, perjalanan lintas negara itu tentunya membawa misi kenegaraan antara Indonesia dan Australia. Dia berharap, EPA II ini sekaligus menjadi penanda semakin baiknya hubungan bilateral antara Indonesia dengan Negeri Kanguru itu.
     Harapan lain, kata Indra, mahasiswa yang nantinya berprestasi yang tak hanya mengharumkan nama Unhas, tapi juga bangsa, perlu mendapat apresissi dan penghargaan dari pihak universitas.

(ai pasinringi-selesai)
(tulisan ini terbit edisi, SELASA, 23 NOVEMBER 2010, 
halaman 9, HARIAN SEPUTAR INDONESIA)

1 Response to "Sandeq Sabang Subik dan Aina Harumkan Nama Indonesia"

  1. sepertinya cerita tentang persiapan sudah cukup.... kami mau baca cerita perjalanan sesungguhnya dari EPA II...

    BalasHapus