Mahasiswa Pencinta Alam dan Masa Depan Idealisme Kemahasiswaan

Idealisme adalah sebuah kemewahan yang dimiliki oleh seorang manusia. Saking mewahnya, hanya segelintir orang yang memiliki serta mampu mempertahankannya. Namun status mewah itu rasanya tak berlaku bagi kaum  mahasiswa. Wangi idealisme dapat dengan mudah kita jumpai di tengah-tengah mahasiswa yang sedang berdiskusi bersama rimbunnya pohon kampus. Tak jarang pula kita temui di halaman kantor pemerintahan bersanding dengan spanduk tuntutan dan teriakan kecaman. Hal itulah yang menjadikan kampus tak hanya mencetak ijazah namun juga manusia – manusia berguna.
korpala
Ilustrasi : Petani Rembang saat Demo Semen Kaki di depan Istana Negara

Masihkah demikian adanya di zaman sekarang. Zaman di mana kita dengan mudah menemui mahasiswa di layar kaca. Bukan mendebati Menteri keuangan dalam sebuah talk show tentang konsep ekonomi, tapi sebagai penonton pada acara stand up comedy. Mungkin pula kita dengan mudah menemui kaum terpelajar tersebut beradu vokal dalam ruang karaoke ketimbang bertukar gagasan di bawah pohon. Obrolan mereka pun bukan lagi soal pertentangan kelas namun tentang mobile legend. Dasar student jaman now ☹

Mahasiswa yang dulu kritis kini mendadak krisis identitas. Dalam kasus disorientasi jati diri jangan harap kepekaan sosial akan lahir. Maka jangan heran jika setiap kebijakan pemerintah/dewan selalu melenggang mulus hingga ketuk palu. Tak ada lagi konsolidasi sebelum turun aksi, apalagi parade puluhan almamater yang melumpuhkan jalan.  Jangankan  mengurusi hajat hidup rakyat, kebijakan kampus pun seringkali tak mampu dikritisi. Bukankah Paulo Freire  pernah berujar bahwa Pendidikan bertujuan untuk  menumbuhkan daya nalar serta sikap kritis. Pendidikan pula yang melahirkan manusia merdeka, bukan malah patuh dan tunduk pada penguasa.

Mahasiswa Pencinta Alam dalam tinjauan sejarah

Berbicara tentang cikal bakal  Pencinta Alam (PA) di Indonesia rasanya salah jika tak menyertakan kedua tokoh ini, Awibowo dan Soe Hok Gie. Awibowo yang kala itu di tahun 1953 menemukan sebuah frase yang akan sangat dikenal kemudian. Dengan kemampuan mendalami kata serta keahlian bersemantik, Awibowo melahirkan frase “Pentjinta Alam”. Bersama dengan organisasi yang ia dirikan (Perkumpulan Pentjinta Alam), pria yang oleh Norman Edwin didaulat sebagai biang pencinta alam ini mulai meletakkan pondasi kepencintaalaman. Sayangnya Perkumpulan Pentjinta Alam (PPA) pergi terlalu cepat tanpa meninggalkan banyak catatan.

Tak lama berselang pasca Awibowo dan PPA, tunas kepencintaalaman kembali bersemi di kampus Universitas Indonesia (UI). Salah satu sutradara sekaligus aktornya tak lain tak bukan ialah Soe Hok Gie (1942-1969). Gie begitu ia akrab disapa adalah salah satu mahasiswa yang paling progresif pada masanya. Masa di mana Indonesia mengalami pergulatan politik yang jauh melebihi hegemoni 1998. Tahun-tahun itu menjadi penghujung karir sang Proklamator sebagai Presiden RI. Masa itu pula yang menjadi momentum perebutan kuasa serta pengaruh antara PKI dan Angkatan Darat.

Sosok kritis serta mental baja yang dimiliki Gie tak lepas dari kondisi negara saat itu. Kemampuan jurnalistik yang dimiliki Gie membuat artikelnya menjadi langganan terbit beberapa media massa. Isinya pun dapat ditebak, kecaman terhadap gaya hidup hedonis para pejabat di tengah kesulitan hidup rakyat atau pun mengenai gagasan brilliant terhadap keberlangsungan negara. Karakter Gie yang sedemikian mewah untuk ukuran mahasiswa sekarang tak hanya dibentuk melalui buku-buku yang ia baca, tetapi juga melalui kegemarannya mendaki gunung.

Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrasi dan slogan-slogan. Seseorang hanya mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal akan objeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang kuat. Karena itulah kami naik gunung……(Soe Hok Gie, Zaman Peralihan)

Dari penggalan catatan di atas, Gie tampaknya menyiratkan banyak hal. Ia pun sadar betapa alam adalah sekolah sekaligus guru terbaik yang Tuhan ciptakan.  Melalui proses dialektika serta pendalaman nilai, Gie turut serta mendirikan Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) Universitas Indonesia (1964). Mapala dewasa ini menjadi akronim yang paling familiar di institusi Pendidikan tinggi. Bahkan sangat sulit untuk tidak menemukan “Mapala” di kampus-kampus, baik itu Universitas, Sekolah Tinggi, Akademi maupun Politeknik.

Kemunduran Mahasiswa Pencinta Alam

Jika melihat Organisasi Pencinta Alam sebagai Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), rasanya kita patut mengelus dada akan sejarah tersebut. Seperti diketahui bahwa konsep UKM adalah salah satu rekomendasi dari kebijakan Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan (NKK/BKK). NKK/BKK (1977) lahir di saat gairah pergerakan mahasiswa sedang tinggi-tingginya. Kebijakan ini ibarat obat tidur yang wajib diminum oleh seluruh mahasiswa. Tujuannya satu, yakni membuat pergerakan mahasiswa tertidur pulas. Dampak dari pemberlakuan kebijakan ini ialah bubarnya Senat Mahasiswa dan Dewan Mahasiswa. Proses perkuliahan pun mulai diperkenalkan dengan sistem kredit semester (SKS) yang secara langsung memaksa mahasiswa untuk cepat menyelesaikan masa studi. Untuk menyalurkan energi pemuda mahasiswa saat itu maka dibentuklah UKM-UKM yang berorientasi pada pengembangan minat dan bakat.

Terlepas dari sejarah kelam NKK/BKK serta lahirnya konsep UKM, sebagai seorang Mapala kita harusnya sadar akan sisi lain sejarah yang gemilang. Mapala era Gie menjadi salah satu organisasi pemersatu. Mapala dengan mantap mendobrak sekat kedaerahan maupun keagamaan yang banyak menjadi landasan berdirinya organisasi masa itu. Tampaknya orang-orang di masa itu sadar bahwa perubahan tidak dapat dilakukan jika kita masih mempersoalkan warna.

Namun apa yang terjadi dewasa ini. Mari bertanya pandangan orang terdekat kita tentang Mapala. Mungkin jawabannya tidak jauh dari hal-hal negatif. Stigma yang ada di kepala mayoritas orang tidak semata-mata muncul kemarin sore. Rangkaian pengalaman ditambah lagi dengan pemberitaan media yang kadang membabi-buta membuatnya semakin lengkap. lalu di manakah kita sebagai seorang Mapala, masihkah kita bangga dengan gandengan ransel besar dan tinggi menjulang itu.
Lalu di manakah para Mapala saat ibu-ibu Rembang berjuang untuk menolak kehadiran pabrik semen. Pabrik semen yang nantinya akan merusak sumber air warga, sekaligus meledakkan banyak tebing. Tidakkah para pemanjat tebing itu terpanggil saat guru dan sekolahnya dilenyapkan. Sudah saat-nya para Mapala “turun gunung” untuk menjemput persoalan bangsa. Karena heningnya gunung tidak mengajarkan kita untuk soliter. Pun halnya dengan kegelapan Gua bukan untuk menghilangkan kecerahan pikiran kita akan permasalahan sesama.

Bagi seorang Mapala pentungan dan gas air mata itu bukanlah apa-apa dibanding rembesan hujan dini hari yang menembus bivak. Begitu pula dengan ancaman skorsing/DO dari Rektor yang tak seberapa dengan ancaman air bah dalam penyebrangan basah. Bahkan berada dalam jeruji masih lebih nikmat jika dibanding masa survival. Lalu dengan maksud apa filosofi Pendidikan Dasar (Dikdas) dirancang demikian. Pastinya bukan untuk menghasilkan mahasiswa yang menolak turun aksi hanya karena takut terik. Bukan pula untuk membentuk mahasiswa arogan yang miskin akan pergulatan pikiran.

Di akhir tulisan ini saya ingin mengutip sepenggal catatan yang tak asing bagi anak Korpala (Ankor). Catatan yang menurut saya membawa setumpuk makna. “Andai cinta ditujukan pada alam ciptaanNya, itulah kuantitas cinta. Jika cinta ditujukan pada penciptaNya, itulah kualitas cinta. Cinta kami pada Tuhan dan Alam, bukan dalam andai dan tidak dalam jika”

Muh. Ihsan, S.Kel (K 125 14 489), Ketua Umum Korpala Unhas periode 2015-2016

0 Response to "Mahasiswa Pencinta Alam dan Masa Depan Idealisme Kemahasiswaan"

Posting Komentar