MERINTIS JALUR DI TEBING KANAAN TANA TORAJA

 

 Top Tebing (dok. Korpala Unhas)

          Salah satu program kerja andalan KORPALA Unhas di periode ini adalah Operasi Tebing Kanaan Tana Toraja. Operasi tebing merupakan program kerja dibidang operasional khusunya panjat tebing yang telah direncanakan dalam Rapat Kerja XXXIV Korpala Unhas. 

          Operasi ini dilaksanakan pada tanggal 13 - 20 Agustus 2021, yang berlangsung selama 7 hari.  Tepatnya 5 hari setelah ulang tahun Korpala Unhas yang ke-36.

         Tebing Kanaan adalah salah satu dari sekian banyak tebing yang ada di Tana Toraja. Tebing ini merupakan bagian dari Gunung atau Buntu Kanaan yang memiliki ketinggian 1000 meter di atas permukaan laut. Tebing ini terletak di Dusun Bala, Desa Lembang Randanan, Kecamatan Mengkendek, Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan.

          Berdasarkan data survei yang diperoleh, tebing Kanaan belum pernah ada yang melakukan pemanjatan baik artificial maupun sport. Beberapa kali pihak-pihak di luar KORPALA Unhas melalukan observasi dan pendataan terkait tebing ini. Namun masalah perizinan dan adat kerap kali bersinggungan dengan berbagai kepentingan, sehingga pemanjatan tetap tidak dilakukan. Hal ini yang mendorong KORPALA Unhas sebagai kaum akademisi untuk melakukan pembuatan jalur pertama pada sisi tebing ini. Ini menjadi sejarah pemanjatan tebing Kanaan yang dilakukan oleh KORPALA Unhas maupun sejarah panjat tebing di Sulawesi Selatan.

         Anggota yang terlibat dalam tim Operasi Tebing Kanaan ini berjumlah 9 orang. Diantaranya 3 orang sebagai atlit yakni Ahmad Akbar dari Prodi Ilmu Hukum Fakultas Hukum, Muh. Lutfi dari Prodi Ilmu Hukum Fakultas Hukum, Doloreno dari Prodi Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya, 2 orang sebagai technical advisor yakni Mukhlis Try P. dari Prodi Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya, Muh. Aras dari Prodi Ilmu Tanah Fakultas Pertanian serta 4 orang lainnya sebagai tim pendukung yakni Akhmad Fauzan dari Prodi Kehutanan Fakultas Kehutanan, Jabin Nehemiah dari Prodi Sosial Ekonomi Perikanan Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Richardy dari Prodi Perlindungan Tanaman Fakultas Pertanian, dan Asrullah yang merupakan alumni Unhas.

         Sebelum pelaksanaan Operasi Tebing Kanaan, tim telah dibekali beberapa materi terkait pemajatan tebing dan juga simulasi pemanjatan artificial yang dilakukan di Dusun Lopi-lopi Kelurahan Leang-leang, Kecamatan Bantimurung, Maros. Simulasi tersebut dilakukan untuk memantapkan tim dalam hal mengaplikasikan materi serta melatih fisik dan mental.

Leader and belayer (dok. Korpala Unhas)

         Operasi pemanjatan ini menggunakan Siege-Tactic System, dimana atlit menggabungkan Himalayan dan Alpine System dalam melakukan pemanjatan. Hal ini dilakukan dalam upaya memanajemen anggaran, sarana dan prasarana yang akan dikelola.

         Ketinggian Tebing Kanaan terhitung dari dasar tebing ialah ± 70 meter dangan jenis batuan sedimen berjenis gamping (limestone). Terdapat beberapa batuan lepas pada permukaan tebing serta ada beberapa bagian pada permukaan tebing yang terindikasi pernah terbakar oleh api. Tak heran pada saat pemanjatan banyak batuan jatuh akibat rapuh.

Jalur tebing (dok. Korpala Unhas)

         Selain melakukan pemanjatan, tim melakukan pendataan terkait karakteristik tebing, mulai dari flora dan fauna yang ada disekitar tebing serta melakukan pendataan terkait kondisi sosial budaya masyarakat setempat.

         Dari hasil pendataan yang dilakukan, masyarakat sekitar tebing masih memanfaatkan tebing sebagai media penguburan hingga satu dekade terakhir. Seseorang yang telah meninggal dunia akan dicarikan lubang yang tepat pada permukaan tebing baik secara natural maupun buatan manusia (artificial) untuk kemudian dimakamkan di sana. Alat utama yang biasa digunakan oleh masyarakat untuk melaksanakan penguburan tersebut ialah bambu. Bambu akan disusun menyerupai tangga untuk membawa mayat pada ketinggian tertentu untuk dimakamkan.

         Karakteristik tebing yang unik serta sosial budaya yang khas, lokasi ini juga mempunyai pemandangan alam yang indah. Jika berada di puncak tebing Buntu Kanaan kita dapat melihat hamparan persawahan yang luas, ikon rumah adat Toraja dan pemandangan tebing-tebing karts yang menjulang tinggi. Tentunya ini menjadi kebijakan pemerintah setempat dalam mengelola potensi wisata minat khusus dan kegiatan panjat tebing di Daerah Toraja.

         Dengan terealisasikannya kegiatan ini tentunya atas dukungan dari anggota KORPALA Unhas, Kemahasiswaan Universitas Hasanuddin, para pemerintah setempat yakni Kepala Dusun Bala, Kepala Desa Lembang Randanan, Camat Mengkendek, Bupati Tana Toraja, Polsek Mengkendek serta masyarakat di sekitar tebing Buntu Kanaan.

~Ian (K. 542)

#SURVIVEWITHKORPALA!

 

 

0 Response to "MERINTIS JALUR DI TEBING KANAAN TANA TORAJA"

Posting Komentar